SISWI SMA NEGERI 1 SELONG CHANTIKA PUTRY ARINDA LOLOS PARLEMEN REMAJA DPR RI 2026
SMA Negeri 1 Selong – Selong --- Chantika
Putry Arinda, siswi kelas X.3 SMA Negeri 1 Selong, terpilih sebagai peserta
Parlemen Remaja DPR RI Tahun 2026 setelah melewati rangkaian seleksi nasional.
Kepastian tersebut tertuang dalam Surat Pengumuman Sekretariat Jenderal DPR RI
Nomor B/11509/HM.03.03/9/2026 tentang Pengumuman Peserta Parlemen Remaja Tahun
2026.
Pada tahun 2026, Nusa Tenggara Barat diwakili oleh
lima peserta yang lolos dalam program tersebut. Selain Chantika Putry Arinda
dari SMA Negeri 1 Selong, peserta lainnya adalah Fahry Arkan dari SMA Negeri 1
Sumbawa Barat, Muhamad Rizal Alpauzi dari MA Negeri 1 Sumbawa, Aprilia Nawang
Wulan dari SMA Negeri 1 Praya, dan Titin Handayani dari SMA Negeri 1
Pringgabaya.
Bagi Chantika, keberhasilan menjadi peserta program
nasional itu menjadi buah dari keberanian untuk mencoba, meski sempat diliputi
rasa tidak percaya diri karena baru memasuki jenjang SMA.
“Perasaan saya saat pertama kali melihat nama saya
dinyatakan lolos rasanya sangat haru, kaget, sekaligus sangat bersyukur karena
perjuangan panjang akhirnya membuahkan hasil,” ujar Chantika.
Orang pertama yang ia beri tahu tentang kabar
tersebut adalah kedua orang tuanya, Hariyadi yang berprofesi sebagai perawat
dan Ida Rohaeni yang merupakan seorang guru.
“Orang tua adalah support pertama saya,”
katanya.
Kabar kelulusan itu pun langsung disambut haru dan
bahagia oleh keluarga. Chantika menceritakan, orang tuanya langsung mengucap
syukur dan memeluknya. Keluarga besar pun turut memberikan ucapan selamat serta
doa agar seluruh rangkaian kegiatan di Jakarta berjalan lancar.
Perjalanan Chantika menuju Parlemen Remaja 2026 tidak
berlangsung mudah. Rangkaian seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai
dari pengiriman berkas dan esai, pembuatan video kampanye, hingga wawancara
daring melalui Zoom pada pertengahan Agustus.
Tantangan terbesar justru dirasakan Chantika sejak
awal pendaftaran. Saat itu, ia masih berada dalam tahap beradaptasi sebagai
siswa SMA dan belum sepenuhnya mengenal lingkungan sekolah.
“Sempat merasa tidak percaya diri untuk bersaing
di tingkat nasional. Namun, keberanian untuk mencoba mengalahkan rasa ragu
tersebut,” ungkapnya.
Di tengah proses adaptasi tersebut, Chantika tetap
berusaha menyelesaikan setiap tahapan seleksi. Ia menyusun esai, mempersiapkan
video kampanye, hingga menghadapi wawancara dengan para penguji yang memberikan
sejumlah pertanyaan kritis.
Parlemen Remaja merupakan program edukasi demokrasi
yang diselenggarakan DPR RI sejak 2008. Program ini memberikan pengalaman
kepada pelajar untuk mengenal lebih dekat tugas dan fungsi parlemen, termasuk
proses pembentukan undang-undang serta simulasi persidangan.
Para peserta akan mendapatkan pengalaman menjalankan
peran layaknya anggota DPR RI, mulai dari membahas rancangan undang-undang,
mengikuti rapat kerja komisi, kunjungan kerja, hingga Rapat Paripurna.
Selain memperkenalkan sistem keparlemenan, program
tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis,
kepemimpinan, komunikasi, serta kepedulian generasi muda terhadap berbagai
persoalan publik.
Pada 2026, Parlemen Remaja mengangkat tema “Generasi
Cerdas, Aksi Remaja Stop Perundungan, Ciptakan Sekolah Ramah dan Bermartabat.”
Tema tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk
membahas persoalan pendidikan sekaligus merumuskan gagasan nyata dalam
menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari perundungan.
Dalam seleksinya, Chantika mengangkat gagasan
mengenai pentingnya menciptakan safe space atau ruang aman di lingkungan
sekolah.
“Saya mengangkat penguatan sistem pelaporan anonim
yang protektif bagi korban perundungan, serta edukasi empati digital untuk
mencegah cyberbullying di kalangan remaja,” jelasnya.
Setelah dinyatakan lolos, Chantika kini mulai
mempersiapkan diri menghadapi pelaksanaan Parlemen Remaja 2026 di Jakarta yang
dijadwalkan berlangsung pada 28 September hingga 3 Oktober 2026.
Persiapan dilakukan dengan memperdalam materi
mengenai tata cara persidangan parlemen, rancangan undang-undang, regulasi
perlindungan anak, serta melatih kemampuan public speaking. Ia juga menjaga
kondisi fisik dan mempersiapkan berbagai kelengkapan administrasi.
Dari seluruh rangkaian kegiatan yang akan dijalani, Chantika
mengaku paling menantikan pengalaman berdebat secara langsung di ruang komisi
serta merasakan atmosfer Rapat Paripurna di Nusantara II.
“Saya ingin merasakan langsung dinamika penyusunan
kebijakan publik sebagai wakil suara generasi muda,” tuturnya.
Selama kurang lebih sepekan, pelajar terpilih dari
berbagai daerah pemilihan di Indonesia akan berkumpul di Kompleks Parlemen
Senayan, Jakarta. Mereka akan mengikuti orientasi, mendapatkan materi
keparlemenan, serta menjalani simulasi sidang formal layaknya anggota DPR RI.
Menjadi representasi SMA Negeri 1 Selong dan NTB, Chantika
tidak ingin pengalaman tersebut berhenti setelah kegiatan di Jakarta selesai.
Ia memiliki target untuk membawa pulang wawasan
legislatif dan ilmu kepemimpinan yang diperoleh selama mengikuti Parlemen
Remaja, kemudian membagikannya kepada rekan-rekan di sekolah maupun lingkungan
yang lebih luas.
Lebih jauh, Chantika ingin menginisiasi sebuah
gagasan bernama AURORA (Advokasi Unggulan Remaja Optimalkan Ruang Aman) sebagai
upaya mendorong pencegahan perundungan di lingkungan sekolah-sekolah di NTB.
“Target utamanya adalah membawa pulang ilmu
kepemimpinan dan wawasan legislatif untuk dibagikan kepada rekan-rekan di
sekolah dan daerah,” ujarnya.
Keberhasilan Chantika juga tidak lepas dari dukungan
keluarga. Di tengah kesibukan sekolah dan proses seleksi, kedua orang tuanya
memberikan dukungan moral maupun fasilitas.
Mulai dari menyediakan ruang belajar yang tenang,
membantu kebutuhan pengambilan gambar video kampanye, hingga memberikan
dorongan ketika Chantika merasa lelah atau cemas selama proses seleksi.
Di mata kedua orang tuanya, Chantika merupakan sosok
yang mandiri, tekun, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan memiliki kepedulian
terhadap lingkungan sekitarnya.
“Sejak kecil ia memang aktif berorganisasi di
sekolah, rasa ingin mencoba hal barunya sangat tinggi, kritis terhadap hal-hal
di sekitarnya, serta memiliki empati yang kuat jika melihat temannya mengalami
kesulitan,” kata orang tuanya.
Bagi Hariyadi dan Ida Rohaeni, keberhasilan Chantika
menjadi peserta Parlemen Remaja DPR RI 2026 merupakan kebanggaan sekaligus
amanah. Mereka berharap putrinya dapat menjaga kesehatan dan perilaku selama
berada di Jakarta serta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menimba ilmu
sebanyak-banyaknya.
“Semoga pengalaman di Parlemen Remaja 2026 menjadi
batu loncatan baginya untuk terus berkontribusi positif bagi bangsa dan
menggapai cita-citanya di masa depan,” harap keduanya.
Kini, Chantika bersiap membawa nama sekolah dan NTB
ke tingkat nasional. Dari seorang siswi kelas X yang sempat ragu untuk mencoba,
ia berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mengambil kesempatan dapat
membuka jalan menuju pengalaman yang lebih besar.
Parlemen Remaja 2026 pun bukan hanya menjadi panggung
bagi Chantika untuk belajar tentang parlemen, tetapi juga menjadi kesempatan
untuk menyuarakan gagasan generasi muda tentang sekolah yang aman, ramah, dan
bebas dari perundungan.