PERJUANGAN TRISTAN ZAKI ALDIZAEN, LOLOS CALON PASKIBRAKA LOMBOK TIMUR 2026

SMA Negeri 1 SelongSelong --- Salah satu Siswa SMA Negeri 1 Selong, Tristan Zaki Aldizaen, terpilih sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Lombok Timur Tahun 2026. Penetapan ini merujuk pada Surat Sekretariat Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor: 400.5.6.1/194.2/PORA/2026 tertanggal 29 Juni 2026. Dari total puluhan pelajar tingkat SMA, SMK, dan MA se-Lombok Timur yang berkompetisi, Tristan sukses mengamankan tempat di antara 32 peserta terbaik yang terdiri dari 16 putra dan 16 putri untuk bertugas pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Selong.

 

Di balik seragam rapi, postur tegap, dan senyum penuh percaya diri saat di lingkungan sekolah, pemuda yang akrab disapa Tristan ini ternyata menyimpan kisah perjuangan yang sangat menginspirasi. Mengetahui namanya tercantum dalam lembar pengumuman resmi tersebut, ia mengaku diliputi rasa syukur yang mendalam dan sempat merasa tidak menyangka bisa melangkah sejauh ini.

 

"Perasaan saya sangat senang karena bisa sampai di titik ini dan sedikit tidak menyangka bisa sampai di sini," ungkap Tristan dengan jujur, mencerminkan kerendahan hatinya di balik prestasi besar yang diraih.

 

Terpilih sebagai perwakilan dari SMA Negeri 1 Selong, Tristan menyadari bahwa pundaknya memikul tanggung jawab moral yang tidak kecil. Ia membawa misi positif tidak hanya untuk menjaga marwah almamater, tetapi juga untuk berbagi energi positif dengan rekan-rekan sesama peserta dari sekolah lain.

 

"Sebagai perwakilan dari SMA Negeri 1 Selong, saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari Paskibra SMA Negeri 1 Selong dengan berbagai prestasi yang telah ditorehkan. Saya harap nantinya saya bisa memberikan hal-hal positif kepada rekan-rekan saya dari sekolah lainnya dan mengajak mereka bersama-sama menjadi lebih baik lagi," tuturnya penuh antusias.

 

Namun, jalan menuju panggung kehormatan tersebut sama sekali tidak dilalui dengan instan. Tristan harus berjibaku melewati rangkaian seleksi tingkat kabupaten yang sangat ketat dan menguras energi selama kurang lebih lima hari penuh. Seleksi berlapis ini dirancang untuk menguji ketahanan fisik sekaligus mental para peserta secara menyeluruh. Rangkaian ujian yang dijalaninya meliputi tes pengetahuan wawasan kebangsaan dan intelegensia umum pada hari pertama, dilanjutkan dengan tes kesehatan pada hari kedua. Perjuangan berlanjut dengan tes parade serta peraturan baris-berbaris (PBB), tes kebugaran jasmani pada hari keempat, hingga ditutup secara resmi dengan tes minat bakat, sesi wawancara mendalam, dan sidang penentuan akhir (pantukhir) pada hari kelima.

 

Bagi Tristan, rintangan paling berat selama masa seleksi tersebut bukanlah semata-mata menghadapi berbagai materi ujian tertulis maupun praktiknya. Tantangan sejati justru terletak pada bagaimana ia mampu menjaga konsistensi kondisi fisik dan kejernihan pikiran agar tetap berada di level prima dari hari pertama hingga hari terakhir seleksi yang melelahkan.

 

Di tengah ketatnya persaingan dan tekanan mental yang tinggi, rasa ragu sempat tebersit di dalam benaknya. Kendati demikian, Tristan memiliki sebuah prinsip hidup yang kuat dan selalu ia pegang teguh di dalam benaknya. Ia senantiasa mengingat pesan berharga agar tidak pernah meragukan kapasitas diri sendiri, sebab apa yang telah ditakdirkan dan tertakar di dalam dirinya diyakini tidak akan pernah tertukar dengan orang lain. Ketangguhan mental yang luar biasa ini juga tidak lepas dari gemblengan serta bimbingan intensif dari para senior di sekolah, yang dengan sabar mempersiapkan fisik dan mentalnya jauh sebelum seleksi dimulai.

 

Tristan sangat menyadari bahwa setiap tetes keringat yang ia keluarkan selalu diiringi oleh fondasi terkuat dalam hidupnya, yakni doa dan restu orang tua. Ketika kabar kelulusan seleksi ini pertama kali ia sampaikan kepada kedua orang tuanya, pesan bijak langsung diberikan agar ia tidak lekas berpuas diri. Orang tuanya mengingatkan bahwa pencapaian di tingkat kabupaten ini barulah gerbang awal dari sebuah perjalanan pengabdian yang jauh lebih panjang.

 

Dengan penuh rasa haru dan hormat yang mendalam, Tristan menyampaikan ungkapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tercinta atas segala pengorbanan tanpa batas yang telah diberikan selama ini.

 

"Pesan saya untuk Mama dan Papa, terima kasih telah memberikan semuanya untuk Tristan. Tentunya Tristan sampai di titik ini tak luput dari doa-doa yang Mama dan Papa panjatkan untuk Tristan," ucapnya dengan penuh makna.

 

Kini, setelah melewati berbagai tahapan seleksi yang panjang, Tristan tengah fokus menjalani masa Pendidikan dan Pelatihan serta karantina intensif di asrama sejak akhir Juli hingga 19 Agustus mendatang. Masa karantina ini dijalani dengan penuh disiplin guna mematangkan seluruh persiapan teknis maupun mental menyambut detik-detik proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah padatnya jadwal latihan baris-berbaris yang menguras tenaga di asrama, Tristan tetap berkomitmen untuk memberikan penampilan terbaiknya demi mengharumkan nama sekolah dan daerah.

 

Menutup perbincangan sebelum memasuki masa karantina, Tristan menitipkan sebuah pesan penuh motivasi. Ia berharap pencapaian dan perjalanannya hari ini dapat menjadi suluh semangat bagi adik-adik kelasnya di SMA Negeri 1 Selong untuk terus berani bermimpi besar, disiplin, dan mendedikasikan usaha yang maksimal dalam menggapai setiap cita-cita mulia di masa depan.

 

(V3)