MENGGERAKKAN LITERASI DARI LOMBOK TIMUR: KIPRAH ALYSHA ANGGIA PUTRI MENUJU DUTA NASIONAL
SMA Negeri 1 Selong – Selong --- Di
tengah maraknya anggapan bahwa minat baca dan daya kritis generasi muda kian
tergerus oleh era media sosial, sebuah gerakan literasi yang digerakkan oleh
para pelajar di Kabupaten Lombok Timur membuktikan hal sebaliknya. Salah satu
sosok di balik gerakan tersebut adalah Alysha Anggia Putri, siswi
kelas XI.6 SMA Negeri 1 Selong.
Remaja kelahiran Rakam, 28 Desember 2009 ini baru
saja resmi dilantik sebagai Duta Literasi Indonesia Batch VI pada Senin
(14/9/2026) melalui pertemuan virtual via Zoom Meeting. Mewakili Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB) di tingkat nasional, Alysha juga menjadi bagian dari 17
pelajar Lombok Timur yang menerbitkan buku antologi cerpen berjudul Orbit
yang Belum Usai.
Buku yang diluncurkan secara resmi di Ballroom Kantor
Bupati Lombok Timur pada Kamis (24/9/2026) tersebut merupakan hasil dari kelas
menulis intensif di Perpustakaan Lembah Hijau, Ijobalit, di bawah bimbingan
penulis produktif asal Lombok Timur, Lalu Abdul Fatah.
Perjalanan Alysha di dunia literasi bermula dari
kesadarannya bahwa membaca dan menulis merupakan sarana untuk memahami dunia
dan menyampaikan pemikiran. Dari kesadaran tersebut, ia berkeinginan agar
manfaat literasi dapat meluas dan dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Hal itu mendorongnya untuk bergabung dan aktif di
Komunitas Duta Baca Lombok Timur—sebuah komunitas remaja dan pelajar SMA yang
bergerak di bidang kampanye literasi, penyediaan akses bacaan, dan pengembangan
minat bakat menulis di wilayah Lombok Timur. Melalui komunitas ini, Alysha
menyebarkan semangat literasi, khususnya kepada anak-anak dan remaja melalui
kegiatan yang menyenangkan serta mudah dijangkau. Ia meyakini bahwa perubahan
besar selalu dimulai dari langkah kecil, termasuk mengajak satu orang untuk
mulai mengenal dan mencintai literasi.
Mengenai anggapan bahwa minat baca remaja tergerus
oleh media sosial, Alysha menilai media sosial memang bisa membuat masyarakat
terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa benar-benar memahami atau
memeriksa kebenarannya. Namun, ia tidak sependapat jika seluruh remaja dianggap
kehilangan minat baca dan daya kritis. Menurutnya, setiap orang memiliki
kebiasaan yang berbeda, dan media sosial sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai
sarana menyebarkan informasi bermanfaat serta memperkenalkan karya.
Melalui antologi Orbit yang Belum Usai, Alysha
menunjukkan bahwa remaja mampu berperan aktif sebagai pencipta karya yang
bermakna, melampaui kebiasaan mengonsumsi konten semata. Antologi ini menjadi
bukti konkret bahwa anak muda memiliki gagasan, kreativitas, dan suara yang
layak didengar oleh publik.
Menyeimbangkan kewajiban akademik di kelas XI.6 SMA
Negeri 1 Selong dengan kegiatan komunitas serta proses kreatif menulis
diakuinya memberikan tantangan tersendiri. Alysha mengungkapkan ada kalanya ia
merasa lelah dan jenuh. Namun, ia memandang rasa jenuh sebagai hal yang wajar
dan perlu dipahami cara mengatasinya.
Keinginan untuk terus berkembang serta memberikan
manfaat bagi sesama menjadi faktor utama yang membuatnya tetap bertahan. Bagi
Alysha, perjalanan ini berfokus pada proses belajar, bentuk tanggung jawab,
serta keberanian untuk tetap melangkah meskipun tidak selalu mudah.
Dalam antologi Orbit yang Belum Usai, keterlibatan
Alysha menjadi kesempatan baginya untuk menuangkan gagasan melalui tulisan.
Selama proses pembinaan intensif bersama Lalu Abdul Fatah di Perpustakaan
Lembah Hijau, ia belajar bahwa menulis membutuhkan ketelitian agar gagasan dan
pesan dapat dipahami secara tepat oleh pembaca.
Proses tersebut mengajarkannya untuk lebih terbuka
terhadap kritik dan tidak cepat merasa puas dengan hasil karya sendiri. Ia
menyadari bahwa tulisan yang baik membutuhkan proses, evaluasi, dan perbaikan
berulang. Pengalaman ini membentuk pemahamannya bahwa penulis yang baik adalah
orang yang mau terus belajar dan memperbaiki diri dari setiap evaluasi.
Pasca-pelantikan sebagai Duta Literasi Indonesia
Batch VI mewakili NTB, Alysha berkomitmen menjadikan amanah tersebut sebagai
tanggung jawab untuk menghadirkan gerakan literasi yang nyata, khususnya di
Lombok Timur.
Bersama komunitasnya, ia merancang agenda konkret
seperti perluasan lapak baca masyarakat, kegiatan membaca nyaring (read aloud)
untuk anak-anak, diskusi buku, hingga pelatihan menulis kreatif yang dekat
dengan kehidupan remaja.
Ia juga menjangkau sekolah dan lingkungan masyarakat
yang belum terbiasa dengan budaya membaca. Bagi Alysha, gerakan literasi
membutuhkan konsistensi untuk membangun kebiasaan membaca dalam kehidupan
sehari-hari, jauh melampaui riuk acara formal.
Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Tamrin
Ulloh dan Zuhratun yang bertempat tinggal di Bagek Longgek Barat, Kelurahan
Rakam ini menyadari bahwa pencapaiannya tidak lepas dari dukungan berbagai
pihak. Komunitas Duta Baca Lombok Timur memberikan ruang untuk terlibat
langsung dan belajar bekerja sama, sementara peranan Lalu Abdul Fatah sangat
membantu dalam pengembangan kemampuan menulisnya. Dukungan dari keluarga, guru,
teman-teman, serta pihak-pihak yang memberikan kepercayaan menjadi penyemangat
sekaligus pengingat baginya untuk menjalankan setiap kesempatan dengan penuh
tanggung jawab.
Sebagai penutup, Alysha membagikan prinsip utama yang
dipegangnya bagi sesama remaja yang masih ragu untuk mulai berkarya.
"Jangan menunggu menjadi hebat untuk mulai
berkarya, tetapi mulailah berkarya agar kita bisa terus bertumbuh. Banyak
remaja memiliki potensi, tetapi terkadang takut mencoba karena khawatir
hasilnya tidak bagus atau dibandingkan dengan orang lain. Kita tidak harus
langsung sempurna untuk memulai. Kita bisa memulainya dari hal sederhana,
seperti membaca buku, menulis cerita, atau berani menyampaikan pendapat. Yang
terpenting adalah berani memulai, mau belajar, dan terus memperbaiki diri.
Langkah kecil yang kita lakukan hari ini bisa menjadi awal dari perubahan besar
di masa depan," pungkasnya.