KHALILA DHIYA FAIRUZ RAIH JUARA 1 LEWAT “RUANG KECIL, BERNAMA PERNAH” DALAM “SATU JEPRETAN, SEJUTA MAKNA”

SMA Negeri 1 Selong – Selong --- Bagi Khalila Dhiya Fairuz, sebuah poster tidak selalu tentang gambar dan pesan yang ingin disampaikan. Melalui karya berjudul “Ruang Kecil, Bernama Pernah”, siswi Kelas XI.4 SMA Negeri 1 Selong itu menuangkan berbagai pengalaman dan kenangan yang dekat dengan kehidupannya.

 

Karya tersebut kemudian membawanya meraih Juara 1 Lomba Membuat Poster Oishi 2026 yang diselenggarakan oleh Wahana Minat dan Kegemaran (WMK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mataram (UNRAM). Lomba yang diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah menengah hingga perguruan tinggi se-Pulau Lombok itu mengusung tema “Satu Jepretan, Sejuta Makna”.

 

Bagi Khalila, judul “Ruang Kecil, Bernama Pernah” memiliki makna yang dekat dengan perjalanan hidupnya. Ia memaknai “ruang kecil” sebagai tempat untuk menyimpan berbagai pengalaman dan proses yang telah dilaluinya.

 

“Bagi saya, ‘ruang kecil’ itu seperti tempat untuk menyimpan semua kenangan dan proses yang pernah saya lewati,” ujar Khalila.

 

Gagasan tersebut kemudian ia tuangkan melalui berbagai elemen yang dekat dengan kesehariannya. Momen belajar, berinteraksi dengan teman sekolah, menghabiskan waktu bersama keluarga, hingga proses mengerjakan karya seni menjadi bagian dari poster yang dibuatnya.

 

Kata “pernah” dalam judul karya tersebut juga dipilih dengan alasan tersendiri. Bagi Khalila, ada berbagai fase dalam kehidupan yang tidak akan kembali dengan bentuk yang sama. Meski demikian, setiap pengalaman tetap meninggalkan cerita dan pelajaran yang dapat dibawa ke tahap berikutnya.

 

Untuk menyelesaikan karya tersebut, Khalila membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Dalam prosesnya, ia sempat mengalami creative block atau kebuntuan dalam menemukan ide.

 

Alih-alih memaksakan diri, Khalila memilih mengambil jeda. Mendengarkan musik, melihat kembali foto-foto lama, atau sekadar beristirahat menjadi beberapa cara yang ia lakukan ketika kesulitan menemukan gagasan.

 

“Biasanya saya berhenti memaksakan diri untuk mencari ide dan justru melakukan hal lain sebentar, seperti mendengarkan musik, melihat kembali foto-foto lama, atau sekadar istirahat. Justru ketika tidak terlalu dipaksakan, saya bisa menemukan konsep yang lebih sesuai,” tuturnya.

 

Lomba tersebut juga memberikan pengalaman tersendiri bagi Khalila karena peserta yang dihadapinya berasal dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Namun, ia tidak melihat statusnya sebagai pelajar SMA sebagai batas untuk mengikuti kompetisi dan mengembangkan kemampuan.

 

“Meskipun masih pelajar, saya tetap bisa punya banyak cerita dan pengalaman, serta sesuatu yang ingin disampaikan lewat karya. Bagi saya, usia bukan batas untuk mulai berkarya dan mencoba sesuatu yang lebih besar,” tegas Khalila.

 

Bagi Khalila, proses berkarya tidak selalu dimulai dari gagasan yang besar. Hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi sumber inspirasi. Pengalaman tersebut kemudian ia olah menjadi karya dengan sudut pandang yang personal.

 

Di balik proses tersebut, dukungan keluarga turut menjadi bagian penting. Mustiaji Amiruddin dan Rosikayani, ayah dan ibu Khalila, melihat putrinya sebagai sosok yang cukup peka dalam menangkap berbagai inspirasi dari lingkungan sekitarnya.

 

“Ide-ide Khalila mengalir apa adanya tanpa paksaan. Jadi, Khalila mempersiapkan lomba poster ini dengan santai dan tidak terburu-buru, karena sesuatu yang terlalu serius dan terburu-buru membuat hasil tidak maksimal,” ungkap mereka.

 

Keluarga juga mengetahui bahwa perjalanan Khalila dalam mengembangkan dirinya tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Ada masa ketika ia menghadapi berbagai persoalan yang membuat semangatnya menurun. Dari pengalaman tersebut, Khalila berusaha mengambil pelajaran dan kembali melanjutkan hal-hal yang ingin dicapainya.

 

Bagi orang tuanya, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan Khalila dalam tumbuh dan menemukan apa yang ingin ia kembangkan. Karena itu, keluarga berkomitmen untuk terus memberikan ruang dan dukungan terhadap kegiatan yang dapat membantu dirinya mengembangkan minat dan kemampuan.

 

“Kami akan mensupport terus dalam mengikuti lomba-lomba, walaupun dalam keadaan sesulit apa pun,” pungkas mereka.

 

Kemenangan dalam Lomba Membuat Poster Oishi 2026 menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Khalila sebagai pelajar. Melalui “Ruang Kecil, Bernama Pernah”, ia tidak hanya menyelesaikan sebuah karya untuk mengikuti lomba, tetapi juga menemukan cara untuk mengolah pengalaman sehari-hari menjadi sesuatu yang dapat dibagikan kepada orang lain.

 (V3)