Berawal dari Resah Angka Kecelakaan, Tim SMA Negeri 1 Selong Ciptakan ‘Electrobump’
SMA Negeri 1 Selong – Selong --- Siswa
SMA Negeri 1 Selong sukses menorehkan prestasi di tingkat Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB). Tristan Zaki Aldizaen (XI-2), L. Muhammad Samir
Abdurrasyid (XII-4), dan Iis Ulvannida (XII-1) berhasil menyabet Juara Harapan
2 dalam ajang Lomba Karya Laboratorium 2026 yang digelar oleh Himpunan
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Mandalika.
Lewat inovasi yang diberi nama Electrobump,
tim SMA Negeri 1 Selong ini berhasil memikat hati juri dalam kompetisi ketat
yang diikuti oleh SMA/MA/SMK sederajat se-NTB.
Ide pembuatan Electrobump ternyata lahir dari
keprihatinan mereka terhadap kondisi lingkungan sekitar. Iis Ulvannida, salah
satu anggota tim, menuturkan bahwa tingginya angka kecelakaan lalu lintas di
lingkungan mereka menjadi pemantik awal lahirnya ide ini.
"Kami mencoba membuat ide bagaimana bisa
menekan angka kecelakaan, dan di saat yang sama, bagaimana menekan penggunaan
energi listrik konvensional yang masih bergantung pada bahan bakar fosil,"
ujar Nida.
Mengangkat tema energi terbarukan dan efisiensi
energi, Electrobump hadir sebagai konsep 'polisi tidur pintar'. Tristan
Zaki Aldizaen menjelaskan secara sederhana bagaimana alat rakitan mereka
bekerja memanen energi dari jalan raya.
"Konsep sederhananya, ketika polisi tidur ini
diinjak atau dilewati kendaraan, gerakannya akan memutar generator. Fungsi
generator ini menghasilkan energi listrik yang kemudian disimpan ke dalam modul
powerbank rakitan kami sendiri, sebelum akhirnya dialirkan menjadi listrik siap
pakai," papar Tristan.
Sebagai lomba berbasis eksperimen laboratorium dengan
validasi data yang ketat, tim SMA Negeri 1 Selong membuktikan inovasinya.
Berdasarkan uji coba laboratorium yang mereka lakukan, Electrobump mampu
menghasilkan daya sebesar 0,14 Watt setiap detiknya saat menerima tekanan.
Tristan mengklaim, penggunaan generator pada polisi
tidur ini memiliki keunggulan komparatif yang cukup besar dibanding inovasi
hijau lainnya. "Inovasi ini memiliki efisiensi yang jauh lebih tinggi
dibandingkan energi terbarukan lain seperti panel surya," tambahnya.
Perjalanan menuju juara tidaklah mudah. Memulai
kompetisi dari proses pendaftaran daring pada Mei lalu, tim harus memutar otak
untuk meringkas eksperimen ilmiah yang rumit ke dalam video berdurasi 5 menit
di Instagram sebagai syarat lolos ke babak final.
Tantangan sesungguhnya baru terasa saat babak final
offline. Di hadapan dewan juri, mereka harus mempresentasikan karya selama 10
menit dan mempertahankan argumen mereka dalam sesi tanya jawab 10 menit. L.
Muhammad Samir Abdurrasyid mengenang momen paling mendebarkan saat juri mulai
menguji kesiapan inovasi mereka untuk skala makro.
"Pertanyaan paling menantang dari juri adalah
bagaimana karya ini dapat diterapkan di dunia nyata dan apa strategi
keberlanjutannya ke depan," kata Samir.
Meski kompetisi telah usai dan mereka harus bersaing
dengan sekolah-sekolah lainnya di NTB, tim Electrobump mengaku sangat bangga
atas pencapaian ini.
"Ini bukan hanya soal perlombaan atau
menang-kalah, tapi bagaimana karya kami dapat menginspirasi, memunculkan
inovasi baru, dan bermanfaat bagi orang lain serta lingkungan sekitar kita
kedepannya," ungkap Tristan penuh optimis.
Nida dan tim berharap, konsep polisi tidur pintar
Electrobump ini kelak bisa benar-benar diimplementasikan di jalan raya atau
area sekolah guna mendukung pengurangan ketergantungan pada energi fosil yang
kian terbatas.